Pameran Inacraft 2019 Bidik Transaksi Rp 149 M

07 Mei 2019 - Kategori Blog

Ramemol.com  Rakyat Merdeka – Pameran seni dan kerajinan tangan terbesar se-Asia Tenggara kembali digelar. Dan tahun ini International Handicraft Trade Fair (Inacraft) 2019 tidak hanya melibatkan para perajin produk lokal, tapi juga diramaikan peserta mancanegara, seperti Jepang, Maroko, Hong Kong, dan Pakistan.

Inacraft 2019 digelar selama lima hari berturut-turut dari 24-28 April 2019 di Jakarta Convention Center (JCC). Dengan melibatkan 1.421 peserta dari seluruh pelosok Tanah Air, ajang ini ditargetkan bisa meraih 200 ribu pengunjung, dengan transaksi ritel senilai Rp 149 miliar.

Pameran ini dibuka langsung Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan didampingi Ibu Iriana Jokowi dan Gubernur DKIJakarta Anies Baswedan beserta istri.

Usai opening ceremony, Jokowi beserta rombongan langsung menuju stan-stan pameran. Bekas Gubernur DKIJakarta ini meninjau beberapa stan. Di antaranya Paviliun DKIJakarta, Empathy, Kerajaan Maroko dan beberapa lainnya. Namun, Iriana memilih memisahkan diri dari rombongan dan ke stan lain. Ia terlihat memborong beberapa produk seperti kain dan tas.

Jokowi bersama rombongan menteri dan pejabat lainnya, cukup antusias melihat-lihat stan produk pameran kerajinan tangan. Begitu juga dengan pengunjung yang terlihat mengular di pintu masuk. Mereka belum diperbolehkan masuk, lantaran menurut prosedur harus menunggu presiden keluar arena pameran terlebih dulu.

Antusiasme tidak hanya terlihat dari pengunjung lokal. Nampak sejumlah pengunjung asing sibuk berkeliling mencari barang yang unik dan menarik. Bahkan mereka tak segan membawa koper besar, sebagai antisipasi kalau-kalau belanjaan yang diborong sangat banyak.

Berita Terkait : Himki Minta Keran Impor Furnitur Dibatasi

Sebagai tuan rumah, Wakil Ketua Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (Asephi) Gusmardi Bustami mengatakan, pihaknya menargetkan transaksi ritel hingga Rp 149 miliar, dengan kontrak dagang sebesar 13 juta dolar AS atau setara Rp 183,34 miliar.

Menurutnya, perkembangan Inacraft sampai saat ini cukup baik. Tahun lalu, semua partisipan berasal dari seluruh daerah di Indonesia, tansaksi meningkat menjadi Rp 136 miliar.

“Karena itu, tahun ini kita targetkan Rp 141 miliar hingga Rp145 miliar dan memang selalu meningkat. Sekitar seribu pembeli potensial dari sekitar 60 negara juga hadir,” tuturnya.

Inacraft 2019 juga akan menghadirkan Paviliun Luar Negeri, yaitu dari Maroko. Mereka hadir sebagai Negara Kehormatan Inacraft 2019, yang didukung Kementerian Pariwisata, Kerajinan, dan Sosial-Ekonomi dari Negeri Maghribi itu.

Produk kerajinan dan keragman budaya dari Maroko itu menempati sekitar 216 meter persegi di Plenary Hall, JCC.

Di penyenggaraan ke-21 ini, Inacraft mengangkat kesenian dan kebudayaan, serta produk kerajinan unggulan dari Betawi, dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai ikon pameran. Kali ini tema yang diangkat Jakarta Enjoyable Multicultural Diversities, mendampingi tema sentral From Smart Village to Global Market.

Baca Juga : Liverpool Emang Jempolan

“Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada penyelenggaraan tahun ini akan diselenggarakan Inacraft Award, sebagai program unggulannya,” sebut Gusmardi.

Produk kerajinan UKM yang dipamerkan akan dikurasi kemudian dinilai dan dipilih oleh 12 orang juri, untuk mendapatkan penghargaan paling bergengsi dari Inacraft.

Ajang Branding

Ikut sertaa yang ke-6 pada penyelenggaraan Inacraft tahun ini, Owner Cattleya Quilt, Lonny Intan Wulandari (38) begitu antusias. Tiap tahun, penyelenggaraan Inacraft selalu dirasakannya berbeda.

“Yang pasti beda tiap tahun, saya selalu exited. Tahun ini lebih banyak peserta yang ikut. Bahkan di hari pertama dibuka saja, pengunjung sudah banyak,” katanya saat berbincang dengan Rakyat Merdeka.

Lonny yang memproduksi berbagai barang jahit perca mulai dari selimut, sarung bantal, dan tas dari perca ini mengaku bersyukur bisa ikut serta di Inacraft. Lewat ajang internasional ini, ia bisa jadi ajang branding produknya dikenal pasar lebih luas.

Baca Juga : Mungkin Dia Lelah

“Tahun lalu, ada pembeli dari Jepang tahu produk saya, katanya pernah lihat di Inacraft. Saya kaget tapi senang juga. Kalau produk makin dikenal kan ekspansi pasar juga makin besar. Ya Alhamdulillah membawa pengaruh ke penjualan juga,” katanya.

Saat ini Lonny mengaku hanya bisa memproduksi barangnya dalam jumlah terbatas. Itu dikarenakan pengerjaan produknya butuh waktu cukup lama, serta dikerjakan secara manual, tanpa mesin. Untuk satu selimut saja, ia membutuhkan waktu lebih dari dua bulan. Kalau sarung bantal dan tas bisa seminggu.

“Pekerja pun cuma dua orang. Saya dan satu lagi orang yang membantu. Memang saya batasi juga produknya karena limited edition. Kalau SDM memang susah dapat orang, apalagi yang punya keterampilan dan seni pola jahit yang unik,” keluhnya.

Meski begitu, ia cukup optimistis produknya tetap mempunyai pasar yang luas. Meski barang terbatas, namun ada pecinta khususnya. Per tahun ia bisa meraup omzet hingga Rp 70 juta, dengan kisaran harga produk Rp 185 ribu hingga Rp 4 juta. Harga tertinggi tersebut dibandrol untuk selembar selimut. [DWI]